Monday, July 13, 2026

Mau Healing Malah Pening: Dilema Liburan Keluarga Indonesia di 2026

 Hello Readers,

Bayangkan seperti ini: kamu sudah merencanakan liburan keluarga dari tahun lalu. Tiket pesawat sudah dibeli saat harga masih ramah di kantong, hotel sudah di-booking, itinerary sudah rapi di Notes HP. Hanya tinggal menunggu hari-H sambil senyum-senyum bahagia.

Terus, saat mendekati Juni... rupiah malah ambruk.



Bukan cerita fiksi, ini beneran kejadian. Nilai tukar rupiah tembus Rp17.907 per dolar AS pada akhir Juni 2026. Bagi keluarga yang sudah kadung beli tiket jauh-jauh hari, ini jadi momen yang bikin dahi berkerut: tiket tidak mungkin direfund atau dibatalin begitu saja kan.


Sumber: Kontan.co.id (30 Juni 2026)

Masalahnya, pelemahan rupiah ini bukan hanya sekedar naik turunnya angka. Efeknya sampai ke dompet liburan beneran. Komponen seperti hotel, avtur, sampai aktivitas wisata yang ada unsur biaya dolarnya otomatis ikut naik. Jadi meski tiket pesawat udah aman di tangan, pos-pos lain dalam rencana liburan seperti hotel, sewa mobil dan tiket masuk destinasi, bisa tiba-tiba melebihi dari budget awal.

Dampaknya terlihat jelas di data perjalanan liburan. Dilansir dari portal Bisnis.com, perjalanan warga Indonesia ke luar negeri pada Mei 2026 tercatat sebanyak 550.382 perjalanan. Turun 14,49% dibanding April, karena adanya kenaikan harga tiket pesawat akibat harga avtur naik dan rupiah yang melempem. Banyak yang akhirnya berfikir ulang, menunda, atau bahkan batal berangkat ke luar negeri.

Bagi yang sudah kadung punya tiket dan tetap memutuskan untuk jalan pun, mau tidak mau harus berusaha menyesuaikan gaya liburan dengan kondisi keuangan terkini. Karena tiket yang sudah dibeli tidak bisa ditarik kembali, tapi berangkat saat harga segalanya sedang mahal juga cukup beresiko apabila tidak dilakukan dengan perencanaan yang matang.

Agar perjalanan liburan bisa tetap dijalankan dan keuangan keluarga tetap aman setelah pulang dari liburan, maka rencana liburan perlu dirombak supaya tetap bisa masuk budget liburan. Beberapa penyesuaian yang umum dilakukan keluarga di Indonesia:

  1. Potong komponen yang masih bisa dinego. Hotel dan aktivitas wisata di destinasi biasanya lebih fleksibel untuk diganti atau dicari alternatif yang lebih murah, dibanding tiket pesawat yang sudah terlanjur dibeli.
  2. Geser dari paket wisata ke jalan-jalan mandiri. Booking hotel dan transportasi sendiri biasanya lebih hemat ketimbang paket komplit dari agen travel. Memang membutuhkan persiapan riset mandiri untuk merencakanan rute dan transportasi antar destinasi, namun hal ini bisa memangkas cukup banyak biaya di perjalanan.
  3. Alihkan sebagian rencana ke destinasi domestik, yang biayanya nggak ikut terseret fluktuasi kurs dolar.
  4. Manfaatkan promo hotel dan diskon musiman yang biasanya makin gencar justru saat kondisi ekonomi lagi menantang, karena pelaku usaha pariwisata juga berusaha menjaga kunjungan tetap ramai.

Jadi untuk kamu yang sedang galau karena tiket sudah di tangan namun kurs lagi kejam-kejamnya, liburannya tetap bisa jalan, kok. Hanya memang perlu sedikit kreatif menyusun ulang rencana agar dompet tidak ikutan syok setelah kembali dari liburan.

No comments:

Post a Comment