Sunday, May 24, 2026

Jalan Ninja

Hello Readers,

Selama beberapa minggu terakhir, aku mulai mengalami kebosanan dengan aktifitas harian sebagai ibu rumah tangga. Rasanya ingin memulai sesuatu yang lebih berbobot dan membuat diri ini lebih bermanfaat lagi. Bukan hal yang tiba-tiba sebenarnya, tapi akumulasi dari beberapa perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dan aku yakin banyak manusia di luar sana pun merasakan hal yang sama setelah bertahun-tahun melakukan rutinitas yang sama dan berulang tiap harinya. Rasanya orang-orang di sekitar kita bertumbuh, tapi kita masih tetap ada di tempat yang sama. Iya kan? 😁

Sejujurnya ini bukan pertama kalinya. Aku sendiri pernah merasa seperti ini sebelumnya, terutama setelah resign dan mulai mengasuh anak sendiri. Dari yang sehari-hari hectic harus mengejar kereta pagi dan penuh deadline dan debat dengan banyak orang, tiba-tiba berubah menjadi slow pace dengan hari-hari diiringi lagu nursery, tangisan dan celotehan anak yang of course harus dihadapi dengan sabar dan lembut, karena kita kan gak pengen teriak-teriak ke anak yhaaa.

Tahun pertama dan kedua resign masih excited karena memang itu pilihan aku sendiri untuk bisa terus membersamai anak di masa golden age nya. Rasanya senang sekali menyaksikan sendiri anak mulai bisa ini itu dan kita ada di setiap detik perkembangannya, bisa terus di sisinya dari bangun sampai tidur kembali. Sampai tiba momen dimana aku melihat teman-teman dari kantor lama mulai menempati posisi yang dulu menjadi targetku saat masih bekerja. Terselip rasa ingin sampai di titik itu juga, dan mulai berandai-andai. Andai dulu tidak ambil keputusan resign dan tetap jadi working mom, mungkin aku pun sudah sampai di titik itu juga. Dan rutinitas bersama anak pun mulai terasa monoton dan membosankan. Karena perkembangan anak kan prosesnya lama  yaa. Gak yang tiba-tiba bisa ngomong, bisa jalan, bisa urus diri sendiri. Semua melalui proses panjang dan pembiasaan yang berulang. 

Tapi rasa bosan waktu itu akhirnya teratasi saat anak mulai bisa bermain keluar rumah dan bergabung bersama teman sebayanya. Aku pun mulai ikut aktif berkontribusi di lingkungan sekitar bersama ibu rumah tangga lainnya. Mulai aktif jadi relawan bank sampah, aktif di posyandu, persiapan 17an, persiapan kegiatan ramadhan, dan segala aktifitas volunteer sebagai warga. Saat anak mulai sekolah pun aku menyibukkan diri dengan aktifitas korlas yang membuat hari-hariku padat dengan perencanaan, namun tetap bisa mengawal pertumbuhan anak. Aktifitas-aktifitas itu yang membantuku mengalihkan perhatian dari rasa bosan dan rasa tidak bertumbuh yang saat itu menghantui diri. Dan akhirnya masa itu pun terlewati.

Oke...dengan menulis sampai baris ini, sepertinya jawaban dari rasa bosan ini sudah mulai kelihatan yaa 😏. Seriously, journaling is indeed a helpful way to deal with GALAU. Awalnya menuangkan keresahan malah akhirnya recall masa-masa kebangkitan 😂

Kalau di masa sekarang ini aku mulai dihantui kebosanan kembali ya karena sejak anak lulus SD, tidak ada lagi aktifitas korlas yang padat seperti di SD. Aktifitas di lingkungan pun mulai di take over oleh para pemuda. Jadi kita yang slow pace ini pun otomatis mulai tersingkir 😌 Di dalam rumah, mengurus anak yang sudah beranjak remaja itu semakin simple. Karena remaja, apalagi anak laki-laki, sudah mulai mengatur segala sesuatunya sendiri. Punya ritme dan aturan versi dia sendiri yang seringnya berbeda dengan versi kita sebagai orangtua. Jadi aku pribadi mulai merasa kurang bermanfaat, kurang berkontribusi. Sementara diri ini masih merasa punya skill, tenaga dan waktu yang bisa dimanfaatkan. Tapi mau ngapain lagi?

Mulailah aku mencari-cari aktivitas komunitas yang ada di sosmed, utamanya di Instagram, platform yang belakangan paling sering kuakses. Algoritma Instagram yang sering memunculkan hal-hal yang sedang kita cari, mempertemukanku dengan berbagai komunitas yang masuk dalam interestku. Mulai dari komunitas jalan-jalan, adventure, olahraga, volunteering, membaca, menulis, dan sebagainya. Bagian yang menyenangkan, aku lihat sebagian besar komunitas-komunitas tersebut diinisiasi oleh gen Z, dan aktif dilakukan  oleh gen Z pula. Dari banyaknya berita jelek tentang attitude gen Z selama ini, ternyata mereka gak seburuk itu kok. Malah banyak pergerakan kreatif dan inovatif yang muncul dari mereka. Walaupun mungkin awalnya dari fomo, tapi kalau fomo nya urusan kebaikan, akhirnya akan membawa dampak yang baik juga untuk yang lainnya.

Bagian gak enaknya, untuk sebagian besar komunitas yang diinisiasi gen Z ini, memiliki batas umur bagi yang ingin berpartisipasi. Seperti komunitas adventure dan volunteer umumnya batas umurnya adalah 35-40 tahun, yang tentunya sudah lama kulewati. Jadi merasa telat banget. Kenapa gak dari dulu ya ikutan komunitas-komunitas seperti ini.

Anyway, no problem sebenernya ya, masih banyak komunitas lain dimana ibu-ibu usia 40++ bisa aktif terlibat, tapi kebanyakan bukan komunitas volunteer. Mostly komunitas hobi seperti masak, olahraga, crafts, fotografi, menulis dan semacamnya. Salah satu yang aku coba saat ini adalah masuk ke komunitas penulis yang semua pesertanya adalah ibu ibu. Jadi memang komunitas ibu support ibu. Enaknya disini, karena sesama ibu, jadi ada saling pengertian antar sesama member. Karena kita sama sama tahu repotnya urusan rumah tangga, tapi sama-sama ingin bisa terus aktif di luar urusan rumah tangga. Jadi aktifitasnya pun gak ngoyo dan mengikuti pace ibu-ibu. Blog ini adalah salah satu langkah awal dalam memulai aktif di komunitas ini.

Bismillah yaa Readers. Semoga pilihan ini bisa menjadi jalur yang mengarah menuju kebaikan. Syukur-syukur bisa bermanfaat, membawa dampak baik untuk orang lain dan membawa cuan untuk aku hahaha..


No comments:

Post a Comment